Mitologi Aztec, Pengorbanan Manusia, dan Sejarah Perang Bunga

Human Sacrifice
Ilustrasi pengorbanan manusia dari Codex Magliabechiano, folio 70. Pengorbanan dilakukan dengan cara diambil jantungnya. 

 

Kebudayaan Aztec selama ini sering kali digambarkan sebagai suku barbar nan buas yang senang mengorbankan manusia dengan cara brutal. Gambar-gambar pengorbanan Aztec tersebar di internet dan dipopulerkan oleh berbagai film dokumentari. Gambaran dan kisah-kisah mengerikan ini seolah mengukuhkan bangsa Aztec sebagai bangsa yang haus darah. Namun seperti yang pernah saya bahas di artikel lain, menilai sejarah dengan moral modern sangat sulit dilakukan. Konteks, budaya setempat, dan nilai-nilai yang berbeda dengan yang kita miliki membuat kita menjadi bias terhadap nilai moral modern itu sendiri.

Namun Perang Bunga adalah hal yang sangat berbeda. Perang Bunga adalah sebutan untuk perang-perang kecil yang terjadi secara reguler di antara bangsa Aztec yang menghuni daerah Lembah Mexico, melawan kota Tlaxcalan di Lembah Puebla. Perang dengan tendensi awal relijius yang bertujuan untuk mengumpulkan korban manusia, namun di balik relijiusitas ini tersembunyi taktik yang luar biasa.


 

Pengorbanan manusia sudah sejak lama menjadi bagian integral dari tidak hanya kebudayaan Aztec saja, namun Mesoamerika secara keseluruhan. Pengorbanan manusia tak hanya dilihat dari kacamata kepercayaan, namun juga dengan kacamata politik dan ideologi negara. Bagi bangsa Aztec, pengorbanan manusia adalah ritual yang suci dan sangat diperlukan untuk memperbarui perjanjian suci antara manusia dan dewa. Mitos penciptaan dunia dari Mesoamerika seringkali menggambarkan para dewa mengorbankan diri mereka sendiri dalam proses penciptaan. Kepercayaan Aztec pun mengulang pola ini untuk terus “menciptakan” masa depan.

Quetzalcoatl adalah dewa Aztec untuk kemuliaan, kehidupan, dan angin. Dalam bahasa Nahuatl, nama Quetzalcoatl berarti “ular berbulu seperti burung”. Sang dewa dikisahkan turun ke dunia bawah sana untuk mengambil sisa-sisa tulang manusia yang mati ketika matahari dihancurkan untuk keempat kalinya. Mitos Mesoamerika menyatakan di masa ini kita hidup dalam siklus kelima matahari, sedangkan empat siklus sebelumnya telah hancur oleh bencana alam. Quetzalcoatl menggunakan sisa-sisa tulang manusia ini untuk menciptakan ulang siklus kelima dengan mengorbankan darah sang Dewa sendiri, dari luka-luka yang ia buat di sekujur tubuhnya.

Quetzalcoatl
Ilustrasi Dewa Quetzalcoatl.

Dewa matahari dalam siklus kelima, Tonatiuh, melemparkan dirinya sendiri ke dalam api, yang dapat dilihat sebagai pengorbanan diri sendiri untuk menjadi matahari dan mengembalikan dunia manusia seperti sekarang. Dalam mitosnya, korban manusia yang seharusnya mengorbankan diri ragu-ragu dalam melakukan pengorbanan, suatu hal yang dianggap dapat menggagalkan ritual karena korban ritual harus RELA dan YAKIN untuk mengorbankan dirinya sendiri. Tonatiuh melihat hal ini, dan melompat ke dalam api agar ritual berhasil, dan menjadi matahari. Korban yang seharusnya melompat setelah Tonatiuh dan menjadi bulan.

Tonatiuh
Ilustrasi Tonatiuh, sang Dewa yang mengorbankan dirinya untuk menjadi matahari dan menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Namun, aksi ini mengganggu Tzitzimimeh, para bintang yang dipandang sebagai pembela para wanita hamil dan bayi yang baru dilahirkan, yang menganggap sang bulan mengganggu jalannya malam. Tzitzimimeh marah dan ingin menelan bulan dan matahari. Gerhana bulan dan gerhana matahari dipandang sebagai aksi Tzitzimimeh yang sedang mencoba menelan bulan dan matahari. Beruntung (atau sialnya) bangsa Aztec cukup maju dalam hal astronomi, sehingga mereka bisa menghitung kapan akan terjadi gerhana berikutnya dan mempersiapkan ritual pengorbanan.

Tzitzimimeh
Ilustrasi Itzpapalotl, ratu dari Tzitzimimeh, dari Codex Borgia.

Dewa Huitzilopochtli ditunjuk sebagai penyelamat yang harus berperang melawan Tzitzimimeh untuk selamanya. Untuk mengusir para bintang setiap subuh tiba, Quetzalcoatl muncul dalam wujud planet Venus yang muncul di pagi hari, sedangkan dewa Xolotl muncul setiap senja tiba dalam wujud planet Venus yang muncul di sore hari. Namun bangsa Aztec percaya energi para dewa pun ada batasnya. Energi juga bergerak dalam siklus seperti manusia dan dunia ini. Manusia membutuhkan energi untuk tetap hidup dalam bentuk makanan yang kita telan sehari-hari, sedangkan para dewa membutuhkan pengorbanan manusia untuk mempertahankan energi mereka dan terus berperang demi keberlangsungan kehidupan di dunia. Dalam hal ini, bangsa Aztec melihat pengorbanan sebagai “mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan seribu nyawa”. Selain kepada dewa matahari, bangsa Aztec juga mempersembahkan korban manusia untuk dewa hujan yang memberikan air untuk pertanian.

Huitzilopochtli.png
Dewa perang Huitzilopochtli.

Namun pada akhirnya dewa terpenting dalam menjaga keberlangsungan hidup adalah dewa perang Huitzilopochtli, yang tiap malam berperang melawan Tzitzimimeh. Bangsa pilihan sang Dewa adalah orang-orang Mexica, etnik terbesar yang membentuk bangsa Aztec.

Terdengar seperti kisah akal-akalan untuk membenarkan ekspansi kekaisaran dan terus berperang? Wajar saja, sebab memang ekspansi-lah tujuan akhirnya.


 

Tidak berarti mitos penciptaan di atas hanya karangan belaka, dan tidak berarti ritual pengorbanan manusia hanya taktik untuk mengurangi jumlah musuh.

Pengorbanan manusia, seperti saya tulis di atas, sejak awal menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Mesoamerika pada umumnya. Manusia memiliki hubungan timbal balik dengan para dewa yang melindungi dan menjadikan alam ini ada. Manusia mengkonsumsi alam, maka alam pun harus mengkomsumsi balik dalam bentuk darah manusia. Baik kebudayaan Aztec, Maya, maupun Inca semua memiliki bentuk-bentuk ritual pengorbanan manusia. Pengorbanan manusia sudah menjadi karakteristik tersendiri dalam ranah kepercayaan Mesoamerika. Namun, versi penciptaan ala etnik Mexica ini menciptakan hutang yang tak mungkin bisa lunas terbayar.

Tersebutlah seorang bangsawan bernama Tlacaelel, putra dari kaisar dan permaisuri terdahulu yang menjadi perdana menteri kerajaan ketika kakak kandungnya berkuasa. Tlacaelel menulis ulang sejarah Aztec untuk membuat etniknya sendiri yaitu Mexica terlihat lebih berkuasa dan agung, dengan cara memaksa kalangan pendeta untuk menerima versi mitos penciptaan yang berhubungan dengan Dewa Huitzilopochtli. Sang dewa yang pada mulanya hanyalah dewa tinggi suku Mexica menjadi dewa nasional bangsa Aztec secara keseluruhan.

Tak puas sampai disini, Tlacaelel juga membakar semua buku yang menuliskan mitos penciptaan yang berbeda dengan versi Huitzilopochtli. Secara kebetulan, pada masa itu sedang terjadi bencana kekeringan yang dimanfaatkan oleh Tlacaelel sebagai “pertanda dewa hujan sedang marah”. Apa yang harus dilakukan untuk menyenangkan sang dewa?

Pengorbanan manusia.


 

Politik, politik, dan politik adalah alasan di balik semua kebijakan Tlacaelel. Tlacaelel dan kakak kandungnya yang menjadi kaisar Aztec, menciptakan aliansi yang dikenal dengan sebutan Aztec Triple Alliance, terdiri dari Kaisar Moctezuma I (saudara Tlacaelel) yang menguasai daerah Tenochtitlan, Nezahualcoyotl yang menguasai daerah Texcoco, dan Totoquihuaztli yang menguasai daerah Tlacopan. Ketiga daerah ini membentuk Kekaisaran Aztec.

Mereka semua berambisi untuk berekspansi dan menambah area kekuasaan, dan membutuhkan alasan untuk berperang. Maka terciptalah yang dinamakan xochiyaoyotl atau berarti Perang Bunga. Perang ini dianggap sebagai perang relijius yang dilakukan HANYA untuk mengumpulkan korban manusia untuk dikorbankan dalam ritual pengorbanan Aztec. Perang bunga berlangsung melawan kota-kota independen Tlaxcala di daerah Lembah Puebla, daerah yang dibiarkan independen untuk menyediakan stok korban manusia.

Selain untuk korban manusia, prajurit Aztec pun mendapatkan keuntungan tersendiri dengan perang-perang kecil ini. Para prajurit memperoleh pengalaman perang, sedangkan para jenderal dapat memilih prajurit yang memiliki kemampuan tinggi dalam perang-perang tersebut untuk dinaikkan pangkatnya. Tlaxcalan digunakan sebagai batu loncatan untuk bangsa Aztec mengasah prajurit mereka menjadi barisan tentara profesional yang siap menaklukkan dunia.

Penyebab lainnya Tlaxcalan dibiarkan merdeka, adalah Tlaxcalan sebagai daerah dikelilingi oleh gunung-gunung tinggi yang menyulitkan penyerangan dalam skala besar dan mudah dilindungi. Bernal Diaz del Castillo, seorang Spanyol yang tergabung dalam pasukan Hernan Cortez yang datang ke Aztec dalam peristiwa yang disebut “The Conquest of Mexico” di tahun 1519, menuliskan pengalamannya melihat benteng Tlaxcalan:

Kami melihat sebuah benteng yang dibangun dengan bahan bebatuan, batu gamping, dan jenis semen lainnya, begitu kuatnya sehingga kapak besi pun tidak mampu merusak tembok ini. Benteng tersebut dikonstruksikan sedemikian rupa agar mudah untuk menyerang sekaligus bertahan, dan saya rasa sangat susah untuk ditaklukkan. Kami berhenti untuk memeriksa benteng ini, dan Cortés bertanya kepada beberapa Indian dari Xocotlan mengapa benteng ini dibangun. Mereka memberitahu kami bahwa peperangan berlangsung antara orang-orang Tlaxcala dan Monteczuma, sehingga Tlaxcalan membangun benteng ini untuk bertahan.

Bangsa Aztec, dan Monteczuma pemimpinnya, cukup pintar untuk tahu cara paling mudah untuk menaklukkan kota-kota seperti ini adalah dengan menaklukkan kota-kota di sekitarnya yang lebih lemah dan mengelilingi musuh mereka. Dengan diputusnya jalur perdagangan dan ransum, kota tersebut akan mudah dihancurkan. Strategi ini berhasil dilakukan terhadap kota Cholula yang akhirnya menyerah kepada Aztec dengan sendirinya.

The Conquest of Tenochtitlan
Lukisan The Conquest of Mexico, menggambarkan jatuhnya ibukota Tenochtitlan di tahun 1521.

Tak diragukan bahwa Monteczuma berencana untuk menaklukkan Tlaxcalan suatu saat nanti. Jika saja Spanyol tidak menyerang bangsa Aztec dan membumihanguskan kota-kota mereka serta melakukan pembantaian massal terhadap penduduknya, Monteczuma pasti akan berhasil menaklukkan Tlaxcalan.


 

Perang Bunga, sebagian memang dipicu oleh alasan relijius, didesain untuk menangkan korban manusia yang akan dikorbankan untuk ritual-ritual mereka yang dipercaya penting untuk keberlangsungan alam.

Pada saat yang sama, Perang Bunga juga dijadikan Tlacaelel sebagai bagian dari strategi berundak untuk menaklukkan seluruh wilayah Mesoamerika. Dengan menaklukkan kota-kota kecil di sekitar Tlaxcalan, bangsa Aztec mendapatkan korban manusia, pengalaman berperang, sekaligus memotong jalur perdagangan ke ibukota Tlaxcalan. Taktik ini, boleh dibilang jenius, menggunakan embargo ekonomi dan pengurangan secara berkala, membutuhkan biaya yang lebih kecil dan dengan korban jiwa jauh lebih sedikit di pihak Aztec ketimbang melangsungkan perang besar-besaran, yang pada akhirnya akan menghabiskan dana besar dengan korban jiwa luar biasa, dan memaksa bangsa Aztec mengambil orang dari antara bangsa mereka sendiri untuk korban manusia.

Tlacaelel, dengan ambisi politik yang luar biasa dan kepintaran yang sudah terbukti dari caranya menangani kekaisaran, hanya dikalahkan oleh takdir, ketika Spanyol memutuskan menyerang ibukotanya. Manusia boleh berusaha, namun takdir dan keberuntungan tetaplah menentukan segalanya, seperti tercermin dalam nasib bangsa Aztec yang akhirnya musnah dibantai massal. Spanyol, dalam kejijikan mereka terhadap ritual-ritual Aztec yang penuh darah dan dewa-dewa mereka yang dipandang kontroversial, lupa bahwa bangsa Aztec juga manusia dan membantai mereka hingga Tenochtitlan bersimbah darah. Aztec mengorbankan manusia untuk menjaga alam, namun kini darah mereka harus tercurah demi ambisi Spanyol dalam ekspansi kekuasaan dan kekayaan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s