Benarkan Islam Disebarkan dengan Peperangan?

Saladin
Tentara perang Saladin, pahlawan muslim yang berperang dalam Perang Salib. Ilustrasi dari Prancis abad ke-13.

Islam, yang sering dikumandangkan sebagai agama damai, kini tak lagi dipandang demikian. Banyaknya kekerasan atas nama agama Islam menimbulkan fobia tersendiri terutama di kalangan negara-negara Barat yang dinamai “Islamofobia”, fobia terhadap orang muslim atau yang mengenakan atribut muslim. Banyak pula kita mendengar, bahwa Islam dapat menyebar dengan pesat seperti sekarang karena dulunya ia disebarkan dengan perang dan pedang. Namun benarkah anggapan ini, ataukah sejarah akan berkata lain?


 

Islam sebagai agama damai adalah kalimat yang sering dikumandangkan sejak peristiwa penabrakan WTC Tower atau si Menara Kembar di Amerika paska 11 September. Peristiwa tersebut, selain melambungkan nama Osama bin Laden juga membuat merebaknya Islamofobia dan menarik terorisme berdasarkan agama ke permukaan. Maka, Islam pun balik berpropaganda dengan kalimat “Islam adalah agama damai”. Tentu saja kalimat ini sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan Islam sendiri pun berarti “damai”.

Bagaimana dengan kecepatan penyebaran Islam di abad-abad pertama kemunculannya? Banyak orang bertanya-tanya, mengapa penyebaran Islam sebegitu cepatnya? Semenanjung Arab adalah daerah dengan berbagai macam suku dan kebudayaan. Masing-masing suku menyembah dewa yang berbeda-beda. Dengan kondisi padang gurun dan lingkungan hidup yang keras, keberlangsungan hidup suku menjadi hal terpenting bagi suku-suku di Semenanjung Arab, sehingga peperangan antar suku adalah hal yang sering terjadi, demi memperebutkan sumber-sumber untuk bertahan hidup yang tak banyak jumlahnya.

Bisa dibayangkan dengan komunikasi antar suku yang lebih banyak bermusuhan ketimbang bersahabat ini, sebuah kota di mana peperangan tidak diperbolehkan, yaitu Mekah, menjadi sangat penting dan berharga. Mekah menjadi kaya dengan cepat karena menjadi pusat perdagangan; hanya di sana orang dapat berdagang dengan rasa aman tanpa perlu takut akan menjadi korban peperangan antar suku.

Orang pun bertanya-tanya: apakah Islam disebarkan dengan pedang sehingga begitu cepatnya orang-orang menerima?


 

Pendapat bahwa Islam disebarkan dengan pedang bersumber dari sejarah penaklukan kerajaan-kerajaan sekitar oleh bangsa Arab di abad awal munculnya Islam. Di pertengahan abad ke-8, bangsa Arab telah menguasai nyaris seluruh lahan dari Spanyol sampai ke Asia Tengah. Di masa itu, penaklukan adalah hal yang wajar terjadi untuk meluaskan daerah jajahan. Namun bagaimana dengan Islam sendiri?

Studi dari Richard Bulliet, profesor dari Universitas Columbia yang berkutat di bidang sejarah awal Islam, menyatakan bahwa di awal-awal penaklukan, agama asli nyaris tidak disentuh. Kisah-kisah “masuk Islam atau kepalamu kupenggal” dan “bayar jizya bagi non-muslim” memang tertulis sebagai bagian dari hukum Syariah, namun kenyataannya penaklukan Arab terdahulu tidak mempraktekkan hukum ini seberat yang ditetapkan dalam hukum Syariah. Boleh dibilang konversi menuju Islam lebih dipicu oleh kondisi sosial politik dan tekanan ekonomi ketimbang dengan paksaan di bawah pedang.

Kehidupan pasca perang tentu lebih banyak tidak menyenangkan ketimbang menyenangkan. Banyak orang kehilangan jabatan dan penghasilan, namun perubahan kekuasaan juga membuka banyak kesempatan baru.

Jizya sendiri tetap diimplementasikan, namun kita kadang lupa di masa itu pembayaran pajak juga sudah diberlakukan. Siapapun dan apapun agamanya, seorang penduduk tetap harus membayar jumlah tertentu sebagai upeti terhadap Kalifah yang bertahta. Penetapan jumlah jizya yang harus dibayar bervariasi dari daerah ke daerah, namun tidak berbeda jauh ketimbang pajak yang biasa dibayarkan. Bahkan ada beberapa daerah di mana perjanjian dibuat dimana tidak ada jizya yang harus dibayarkan dan tak ada yang dipaksa mati atau masuk Islam.

Diskriminasi kepada non-muslim sendiri kebanyakan baru dimulai di jaman kekalifahan Umayyad, tepatnya Umar II (atau Umar ibn Abd al-Aziz), di mana kaum elit mulai menarik garis antara mereka dengan “orang-orang yang masih memeluk doktrin trinitas”. Perubahan ini disebabkan oleh kegagalan Umar II dalam penyerangan Konstantinopel (yang kini dikenal sebagai Instambul, ibukota Turki) yang kala itu dikuasai Byzantine. Orang Kristen yang hidup di bawah kekalifahan ikut terdiskriminasi karena Byzantine dikenal sebagai kerajaan Kristen.

Arab Siege of Constantinople.jpg
Penyerangan terhadap Konstantinopel, diilustrasikan di abad 14.

Sejak saat inilah dimulai pemberlakuan jizya yang sering sekali digunakan untuk mengkritik Islam. Muncul peraturan-peraturan tentang bagaimana seorang Muslim harus berlaku terhadap non-Muslim. Jizya mulai diberlakukan kepada non-Muslim selain pajak, namun sebagai gantinya Muslim pun dikenai keharusan untuk bersedekah, dimana donasi ini diserahkan juga kepada petugas pajak.

Selain faktor ini, sejak masa Abd al-Malik berkuasa, pusat pemerintahan dialihkan ke jazirah Arab, bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa kerajaan, sehingga Arabisasi dan Islamisasi pun otomatis terjadi pada kaum elit dan orang-orang yang mencari kesempatan untuk meraih posisi tinggi. Melihat kondisi ekonomi dan sosial politik seperti ini, wajar saja banyak orang yang masuk Islam.

Tentu ini tidak mengatakan sama sekali tidak ada paksaan atau pembantaian bagi non-muslim. Di beberapa daerah, pembantaian tetap terjadi, namun ini menjadi anomali dalam komunitas muslim itu sendiri. Setelah abad ke-8, tekanan untuk masuk ke Islam sudah menjadi sedemikian nyata sehingga bahkan ketika seorang Kristen bisa menjadi pedagang kaya sekalipun, kondisi yang semakin dipersulit dan diskriminasi yang semakin tajam akan membuat orang-orang seperti ini masuk Islam walaupun demi mendapatkan kenyamanan lebih. Bahkan beberapa daerah tetap memberlakukan jizya bagi mualaf. Konteks menjadi hal yang paling penting ketika kita membuka layar sejarah – karena seringkali sesuatu yang terlihat tak dapat dipandang secara literal dan harus melihat konteks sosial politik di belakangnya.

Kondisi sosial politik yang kompleks berimbas kepada bervariasinya sumber-sumber kontemporer yang dapat dikumpulkan tentang kehidupan di jaman kekalifahan. Namun satu hal yang tak bisa kita lupakan begitu saja adalah, sampai 1914, dari 18.5juta penduduk di Kekalifahan Ottoman Turki, sebanyak 3.5juta bukanlah muslim.


 

Banyak bukti dan naskah sejarah datang dari Mesir, salah satu bangsa yang sejak jaman baheula terkenal dengan catatan sejarah yang terbilang sangat lengkap untuk ukuran peradaban kuno.

Berbagai dokumen administrasi yang selamat dalam bentuk papirus jelas menyatakan peradaban kekalifahan Islam awal sangat toleran, di mana banyak orang Kristen yang tetap memegang jabatan tinggi setelah penaklukan, dan beberapa di antara mereka pun dijadikan petugas penagih pajak untuk mengoleksi pajak dari komunitasnya masing-masing. Beberapa yang lain bahkan mampu mencapai posisi sangat tinggi, seperti kakek dari teologian Kristen terkenal John dari Damascus melayani lima kalifah berbeda sebagai diplomat birokrasi, atau seorang Yahudi yang tak diketahui namanya yang berhasil menjadi gubernur Yerusalem.

Evolusi Islam dari agama yang damai dan kekalifahan yang melindungi beragam kebudayaan menjadi kerajaan yang menekankan hegemoni Islam, seperti disimpulkan oleh Maajid Nawaz dalam bukunya Islam and the Future of Tolerance, sungguh sangat elegan:

Islam evolved in part as an imperialist cause. Aspects of it were bred of the presumptions of late-antique imperialism. The dream of a universal caliphate is a version of late Roman fantasies of a universal Christian empire.

Perubahan Islam dari progresif menjadi agresif, sebagian dipicu oleh pergerakan penjajahan. Aspek-aspeknya sudah mulai terbibit sejak munculnya kepongahan imperialisme. Impian sebuah kekalifahan yang universal hanyalah versi Islam dari fantasi Romawi terhadap kekaisaran Kekristenan yang universal.

 

Referensi:

Behind the Curve: Bulliet and Conversion to Islam in al-Andalus Revisited, Alwin Harrison

Neither Byzantine nor Islamic? The Duke of the Thebaid and the Formation of the Umayyad State, Marie Legendre

Empire to Commonwealth: Consequenses of Monotheism in Late Antiquity, Garth Fowden

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s