Penasaran dengan Latihan Tentara Romawi di Masa Julius Caesar? Yuk Simak di Sini.

Roman VS German
Relief yang menggambarkan peperangan antara prajurit Romawi dengan Jerman kuno, diukir di atas sarkofagus dari tahun 180 – 190 AD.

Ketika kita bicara tentang Romawi kuno, mungkin yang langsung terbersit di pikiran adalah nama Julius Caesar, kaisar agung yang terkenal dengan kemampuan perangnya. Sang kaisar meruntuhkan Republik Romawi dan mendirikan kekaisaran dengan ia sebagai kaisarnya, yang memiliki kekuasaan absolut. Tak puas dengan kekuasaan, sang kaisar pun menjalin cinta dengan ratu legendaris dari Mesir, Ratu Cleopatra, yang hingga kini namanya masih menjadi simbol femme fatale atau wanita cantik penakluk pria.

Cleopatra & Caesar
Cleopatra & Julius Caesar, dilukis oleh Jean-Léon Gérôme di tahun 1866.

Memang, tentara Romawi di masa 800 BC – 476 AD terkenal sebagai pasukan perang yang mumpuni. Kesuksesan militer pasukan Romawi ini terletak pada kedisiplinan yang tinggi dan kepandaian pasukannya menggunakan senjata, yang dilatih pada kamp pelatihan militer.


 

Di masa Julius Caesar, penerimaan tentara dimulai dengan proses yang disebut dilectus. Seorang petugas akan berkeliling dari desa ke desa untuk mencari laki-laki muda yang ingin mendaftar sebagai tentara. Menjadi tentara merupakan pekerjaan yang populer di masa tersebut, karena beberapa alasan:

  • Pertama, alasan yang paling klasik dan telah bertahan selama ribuan tahun hingga ke masa modern: bayaran yang menarik. Gaji tentara di masa itu sangat bagus, karena “ada harga ada rupa”, risiko menjadi tentara juga sangat besar, apalagi dengan kondisi negara yang sering sekali harus maju berperang karena ambisi besar kaisarnya.
  • Alasan klasik kedua yang juga masih sering muncul di jaman modern adalah minuman beralkohol dan wanita. Catatan beberapa veteran perang yang ditemukan menggambarkan betapa mereka merindukan kehidupan dan kesenangan ketika menjadi tentara, terutama ketika pasukan tersebut menjarah kota-kota. Ketika pasukan Romawi menjarah kota, ini berarti kota tersebut akan dibagi menjadi beberapa divisi, dan tiap legion akan menyerang divisi yang berbeda, untuk menghindari terjadinya perang saudara dalam memperebutkan barang jarahan. Salah satu barang jarahan yang paling dinantikan (dan saya rasa setiap kebudayaan kuno mempraktekkan ini) adalah wanita. Bukan untuk dijadikan budak, namun untuk diperkosa beramai-ramai demi memuaskan hasrat para tentara Romawi yang dalam kondisi perang tentu tak bisa sering-sering pulang ke rumah untuk bercengkerama dengan istri masing-masing. Dapat dibayangkan betapa buruk nasib wanita-wanita kuno ini, apalagi untuk yang berwajah cantik, karena nasib diperkosa sampai mati bukan hal yang tidak umum terjadi.
  • Alasan ketiga, orang Romawi mementingkan kejayaan dan kehormatan melebihi segalanya – bahkan uang. Orang Romawi diajarkan untuk memiliki ambisi besar sejak lahir, dan dengan menjadi veteran perang – atau bahkan diterima sebagai tentara – menjadi salah satu simbol kejayaan dan kehormatan yang bagus.
  • Dan terakhir… jika tentara tersebut berhasil hidup sampai masa pensiun tiba, mereka akan dihadiahi tanah pertanian yang luas – sebesar 16 hektar – untuk setiap orangnya. Masa dinas seorang tentara berbeda-beda tiap penguasa, namun di masa Julius Caesar masa dinas adalah 16 tahun.

Melihat keuntungan-keuntungan di atas, tak heran ketentaraan menjadi salah satu prospek yang sangat menarik bagi para pemuda yang ingin meraih ketenaran dan kesenangan hidup. Tak heran dilectus sangat populer.

Aplikasi menjadi tentara cukup mudah. Pendaftar harus sudah mencapai umur pubertas, yang di jaman Romawi kuno, batas umur ini kemungkinan sekitar 16 – 18 tahun. Bagaimana cara membuktikan umur ini? Nah, pendaftar harus memiliki paling tidak satu orang yang dapat menjadi saksi bahwa pendaftar memang benar sudah akil balig, biasanya orangtua atau sanak saudara. Terkadang pemuda yang tak memiliki keluarga akan membayar seseorang untuk berpura-pura menjadi “paman” untuk menjadi saksi mereka.

Roman Legion
Legiun Romawi sekitar abad 1 hingga 3 lengkap dengan kostum perang, tombak, dan perisai.

Jika pendaftar lulus aplikasi awal, ia akan memulai hari-hari ketentaraannya dengan posisi… tirones, posisi paling bawah dalam strata ketentaraan Romawi. Dalam posisi ini, para tirones tidak diperbolehkan memegang perisai atau senjata sungguhan. Mereka berlatih dengan tiruan perisai atau senjata yang terbuat dari kayu dan sengaja dibuat lebih berat ketimbang aslinya. Tirones biasanya berlatih selama enam bulan, dan jika lulus mereka akan dinaikkan ke tingkat Gregarius. Di tingkatan ini mereka dapat dikirim ke medan perang, dengan perisai dan senjata sungguhan yang dibiayai oleh negara. Namun jika perlengkapan ini hilang atau rusak, Gregarius harus menggantinya dengan biaya mereka sendiri.

Masa pelatihan sebagai tirones sangat ditekankan kepada latihan kedisiplinan. Mereka diajarkan bagaimana cara memegang dan mengayunkan pedang dengan benar, serta cara menggunakan perisai sebagai alat perlindungan dan senjata. Yang paling utama, para tirones diajarkan untuk selalu disiplin di setiap saat, selalu berkepala dingin dalam setiap situasi, dan selalu berada di tempat masing-masing dalam barisan masing-masing. Dengan pelatihan ini, setiap kali pasukan diterjunkan ke medang perang, mereka tidak akan mengacaukan barisan atau bergerak sendiri-sendiri, yang ujung-ujungnya akan mengacaukan formasi dan taktik perang yang digunakan.

Mereka diajarkan cara berbaris, cara bergerak maju, cara berdiri dalam formasi, juga berbagai macam formasi perang.

Augustus
Patung Kaisar Augustus yang dikenal dengan nama Augustus of Prima Porta, dibuat sekitar abad 1 AD.

Sejarah membuktikan betapa efektifnya cara pelatihan ini, yang menekankan kedisiplinan sehingga setiap tentara tahu posisi mereka masing-masing dalam setiap situasi. Julius Caesar, kaisar sekaligus jenderal militer yang brilian, berhasil meruntuhkan Republik Romawi, memenangkan berbagai peperangan seperti Perang Gallic (Gaul, yang kini dikenal sebagai negara Prancis), Perang Sungai Nil dimana ia membantu Cleopatra memenangkan kekuasaan atas Mesir, dan mendirikan embrio Kekaisaran Romawi yang pada akhirnya jatuh ke tangan Kaisar Augustus, penerus sang Julius Caesar.

Tak hanya dikenal sebagai jenderal militer yang brilian, kaisar yang agung, dan pendiri Kekaisaran Romawi, nama Julius dan Augustus juga diabadikan sebagai nama bulan Juli dan Agustus, yang digunakan di seantero dunia. Sebuah penghargaan yang pasti akan sangat menyenangkan keduanya, orang Romawi kuno yang menganggap kejayaan dan penghormatan adalah segalanya.

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s