Kehidupan Kasim Kekaisaran China Setelah Runtuhnya Dinasti Qing

Last Eunuch of China
Buku The Last Eunuch of China, menceritakan kisah seorang Sun Yaoting, kasim di masa kekaisaran Dinasti Qing.

Kasim, mereka yang dipandang lebih rendah ketimbang manusia, dicaci dan dihina, dihukum semena-mena terkadang sampai mati, namun tetap dicari.

Sepanjang sejarah kekaisaran China, kasim lazim digunakan untuk melayani di harem (keputren tempat tinggal permaisuri, selir, dan putri-putri kaisar). Umumnya, hanya kaisar, penghuni keputren, dan kasim yang boleh masuk ke dalam keputren. Hal ini dikarenakan kasim tidak lagi memiliki alat kelamin laki-laki, sehingga kaisar tak perlu kuatir selir atau permaisurinya akan melahirkan anak haram, demi menjaga kemurnian keturunan kaisar.

Proses menjadikan seorang anak sebagai kasim, dimulai ketika si anak kecil. Si anak akan diminta untuk berbaring di atas kang (tempat tidur tradisional yang terbuat dari batu bata, dan di dalamnya bisa dipasang api unggun untuk menghangatkan si pemilik di musim dingin) dengan seseorang memegangi pinggang korban, dan dua orang lain memegangi kakinya agar tidak bergerak.

Semacam perban akan diikatkan di bagian bawah perut dan paha atas untuk mengurangi pendarahan. Bagian kelamin yang akan dioperasi (dipotong) dicuci terlebih dahulu dengan air hangat sebanyak tiga kali. Kemudian, dengan pisau kecil yang tajam berbentuk arit, bagian penis dan testis dipotong sedekat mungkin dengan pangkalnya. Harap diingat, tidak ada pemakaian anestesi dalam operasi ini. Yikes!

Semacam klep atau jarum dari timah kemudian ditusukkan ke bagian uretra di ujung bekas operasi, kemudian bagian yang dioperasi diperban dengan kain putih yang dicelup air dingin. Setelah itu, masih dalam kesakitan (bayangkan sakit sunat saja sudah sebegitunya, ini dipotong habis!) si korban akan dipapah oleh dua orang dan disuruh berjalan-jalan keliling ruangan selama dua jam, barulah diperbolehkan berbaring.

Korban tidak diperbolehkan minum sampai tiga hari, yang mana dalam masa itu ia akan merasakan sakit yang luar biasa (ingat, ini di masa dimana tidak ada anestesi atau obat penghilang sakit) dan ketidaknyamanan karena tidak bisa buang air kecil, dan haus luar biasa karena tidak diperbolehkan minum.

Setelah tiga hari, perban dibuka, dan jarum timah dicabut, sekaligus memberikan kelegaan bagi korban karena air kencing akan langsung muncrat keluar setelah tiga hari ditahan. Jika ini terjadi, korban akan diberi selamat karena proses kebiri berhasil. Namun jika korban yang sial tidak bisa buang air kecil, tak ada jalan lain selain mati, karena ketidakmampuan buang air kecil tersebut akan menjadikan bagian tersebut bengkak dan membunuh si korban dalam kesengsaraan.

Sun Yaoting
Kasim Sun Yaoting menunjukkan bagian kelaminnya yang sudah dikebiri.

Biaya kebiri ini biasanya mahal, dan prosesnya pun berbahaya, sehingga lazimnya orangtua korban akan membayar biaya kebirinya hanya jika korbannya tidak meninggal dan berhasil meraih pekerjaan di istana. Biaya kebiri akan dibayar dari gaji yang diterima kasim baru ini.


 

Dinasti Qing sekaligus kekaisaran China berakhir di tahun 1912, ketika Ibu Suri Longyu, sebagai wakil dari Kaisar Henry Puyi yang masih berusia belia, menandatangani surat pengalihan kekuasaan dari kekaisaran menjadi republik. Namun demikian, Kaisar dan keluarganya tetap diperbolehkan tinggal di Istana Terlarang (tempat tinggal kaisar selama berabad-abad lamanya, yang sampai kini masih berdiri tegak di Beijing dengan nama Forbidden City atau Gu Gong) sampai Jepang masuk dan mengusir mereka ke Tianjin.

Forbidden City
Kompleks Istana Terlarang yang dikelilingi parit dan gerbang tinggi, tempat tinggal keluarga kekaisaran.

Tentu, keluarga kaisar tetap membutuhkan pelayan, sehingga kasim, dayang, dan prajurit pun masih dipertahankan untuk melayani kebutuhan keluarga kekaisaran. Kasim-kasim ini dianggap lebih rendah dari manusia karena mereka telah kehilangan kelelakian mereka. Kaisar sering memukuli atau bahkan memenggal kasimnya hanya karena marah, dan biasanya hanya penghuni keputren yang mengerti mereka. Henry Puyi, kaisar terakhir China pernah berkata:

No account of my childhood would be complete without mentioning the eunuchs. They waited on me when I ate, dressed and slept; they accompanied me on my walks and to my lessons; they told me stories; and had rewards and beatings from me, but they never left my presence. They were my slaves; and they were my earliest teachers.

“Masa kecilku tak dapat disebut lengkap tanpa menyebut keberadaan para kasim. Mereka melayaniku makan, berpakaian, tidur; mereka menemaniku berjalan-jalan dan dalam pelajaran; mereka menceritakanku kisah-kisah, mendapatkan hadiah atau pukulan dariku, namun mereka tak pernah meninggalkanku. Mereka adalah budak sekaligus guru bagiku.”

Meskipun setelah jatuhnya Dinasti Qing proses kebiri mulai perlahan menghilang, orang-orang masih mengebiri anak-anak lelaki mereka hingga tahun 1915-an. Salah satu kasim yang sempat melayani Henry Puyi dan hidup hingga tahun 1996 bernama Sun Yaoting.

Henry Puyi
Henry Puyi, kaisar terakhir China, bersama dengan permaisurinya, Permaisuri Wanrong. Kisah hidup mereka berakhir dengan tragis.

Disebut sebagai “kasim terakhir kekaisaran China”, Kakek Sun tumbuh dalam keluarga miskin. Mengalami kekejaman proses kebiri dan selamat, ia melayani keluarga kekaisaran hingga Henry Puyi ditangkap oleh pasukan revolusioner pimpinan Mao, dimana Kakek Sun sebagai “bekas-bekas kekaisaran” dihina dan dihukum penjara. Akhirnya ia menjadi anggota Partai Komunis dan bisa menikmati hidup tenang. Perjalanan hidup Kakek Sun yang penuh gejolak dan air mata dibukukan dalam sebuah biografi berjudul The Last Eunuch in China, yang ditulis oleh Jia Yinghua.

Sun Yaoting Old
Kakek Sun Yaoting di masa tua.

Kakek Sun, yang menjalani hidupnya dengan tegar, menangis hanya dua kali ketika ia menceritakan kisah hidupnya kepada Jia Yinghua, yaitu ketika ia menjalani proses kebiri, dan ketika di masa Cultural Revolution kedua orangtua Kakek Sun membuang potongan penis dan testis milik Kakek Sun karena kuatir apapun yang mengingatkan kepada masa feudal kekaisaran akan membuat mereka ditarget oleh anggota Partai Komunis.

Kasim, sebagai satu-satunya pekerja yang diijinkan masuk ke dalam keputren, memiliki peluang menjadi orang terdekat kaisar. Banyak kasim-kasim yang menjadi kaya dan berkuasa karena kedekatan mereka, seperti Zhang Rang, kasim jahat yang berkuasa di masa Dinasti Han, Gao Lishi kasim jaman dinasti Tang yang membantu dalam plot pembunuhan Putri Taiping, atau Zheng He, yang namanya tak asing dalam sejarah Indonesia, seorang kasim yang juga admiral petualang terkenal dari Dinasti Ming.

Kakek Sun pun bertekad menjadi kasim untuk mendapatkan kesempatan balas dendam kepada tuan tanah desa yang sering menyiksa keluarga Sun. Sang ayah yang miskin mengebiri sendiri anaknya karena tak punya uang untuk menyewa pengebiri profesional. Kakek Sun tak sadarkan diri selama tiga hari, dan harus menanggung derita selama dua bulan tak dapat bangkit dari tempat tidur. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, sebelum Kakek Sun berhasil balas dendam, kekaisaran China keburu runtuh. Tak dapat menghindari nasib dan tanpa penis, Kakek Sun pun terpaksa tetap menjalani kehidupan sebagai kasim istana.

Kakek Sun tinggal di Istana Terlarang hingga tahun 1924, ketika Republik China mengusir keluarga kekaisaran dari istana, dan mengikuti sang kaisar pindah ke Tianjin.

Tak semua kasim mengikuti jejak Kakek Sun tetap melayani kaisar; ketika Henry Puyi pindah ke Tianjin atas bantuan Jepang, hanya sekitar selusin kasim yang ikut. Sisanya melarikan diri dari istana atau berhenti. Banyak dari mereka yang menabung uang cukup untuk hidup hingga akhir hayat. Beberapa mengadopsi anak untuk meneruskan garis keturunannya, dan banyak pula yang pulang ke kampung halaman mereka untuk tinggal bersama keluarga.

Kasim-kasim yang tak punya keluarga atau tempat tinggal dan uang yang cukup, biasanya tinggal menumpang di banyak kelenteng di seantero Beijing. Salah satu kelenteng yang terkenal sebagai “rumah pensiun kasim” disebut The Temple of Prosperity for Ten Thousand Ages yang terletak di Beijing. Para kasim biasanya memberikan donasi ke kelenteng tersebut sebagai “uang muka” untuk membayar pensiun mereka kelak.

Cultural Revolution besutan Mao Zedong merupakan saat-saat yang berat bagi kasim dan keluarga kekaisaran, dimana keturunan kerajaan dan siapapun yang dianggap “sisa-sisa masa feodal China” diburu dan dibunuh. Namun setelah berakhir di tahun 1976, mereka mendapatkan status sebagai “veteran”, termasuk Sun Yaoting yang terkenal sebagai kasim terakhir China dan banyak mendapatkan “order” konsultasi untuk pembuatan buku, novel, dan film yang mengisahkan kehidupan kekaisaran. Biografi Sun Yaoting diterbitkan setelah sang kakek veteran meninggal.

Kakek Sun, kasim yang terpaksa menjadi kasim karena tuntutan kemiskinan dan balas dendam, memang tak berhasil membalaskan dendamnya. Bahkan sang veteran pernah berkata ia merasa hidup ini seperti bercanda dengannya dengan cara yang kejam dan ironis.

Namun sang kakek veteran, yang tak sempat menjadi kasim berkuasa ataupun menumpuk kekayaan, di akhir hidupnya menjadi kaya dengan pengalaman dan perannya sebagai salah seorang yang cukup beruntung dapat menuliskan sejarah untuk dibaca oleh kita semua.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s